......Selamat Datang......

Jumat, 12 April 2013

Lampion Benang Rajut


Lampion Ukir Bentuk Karakter Paling Diminati Cafe  

            Jeli melihat peluang usaha yang sedang tren mendorong Clarissa Widijawati menjalankan usaha produksi lampion dari benang rajut di tahun 2010. Kebetulan saat itu lampion dari benang rajut sedang tren di pasaran. Clarissa tidak mengeluarkan modal terlalu besar untuk memulai usaha ini. Hanya dengan Rp. 500.000 ia gunakan untuk membeli bahan baku dan peralatan seperti bola karet, kain felt, satin, payet, benang, pita, renda, kain tile dan dakron. Ia juga membeli peralatan berupa lem tembak, lem uhu, gunting kecil, gunting besar, tang, pinset, gunting lipat, pensil, penghapus, ballpoint dan penggaris. Dengan modal itu Clarissa bisa memproduksi  5-10 lampion benang rajut.
Menurut Clarissa, keterampilan membuat produk lampion benang rajut  diperolehnya secara otodidak. Ia juga bisa membuat produk ini dari rumahnya yang sejak awal dijadikan tempat produksi dan galeri produk. “Usaha ini tidak terlalu sulit dan tidak mengeluarkan modal besar, bisa dijalankan orang tua, anak-anak muda, baik laki-laki maupun perempuan. Cara pembuatan juga mudah dan menghasilkan lampion yang mempunyai nilai artistik, nilai estetika dan nilai jual yang tinggi,” tutur wanita asal kota Semarang ini.
Menurut Clarissa, lampion berbahan benang rajut prospeknya cukup bagus, apalagi saat ini mulai banyak permintaan dari kalangan usaha kuliner seperti kafe maupun resto. Adapula permintaan dari penyelenggaran acara wedding, Natal dan acara Valentine. “Usaha lampion masih bagus dan menjanjikan, apalagi pasarnya cukup luas. Lampion benang rajut kini makin marak digunakan diberbagai acara-acara show di televisi, kafe, hall, lobby hotel, mal, acara Valentine, ulang tahun, wedding, Natal, Lebaran, sekolah, playgroup, TK dan SD, ruang tidur, ruang keluarga, teras, kamar hotel, gazebo, ruang kerja dan showroom, dan lainnya,” ujarnya.
Produk. Pada awal merintis usaha, Clarissa hanya memproduksi lampion benang rajut dengan permukaan lampion polos, kini seiring berkembangnya kreativitas Sarjana Arsitektur Trisakti ini memproduksi berbagai varian lampion dari lampion model ukir, lampio tempel, lampion karakter dan lampion polos.
Lampion model ukir berupa lampion yang dilubangi atas, bawah, samping lampion dengan dibuat lubang seperti bentuk bintang atau bunga. Biasanya lampion seperti ini sangat cocok untuk kafe, kamar hotel, atau kamar pribadi. Lampion tempel berupa lampion polos yang ditempel kain felt yang sudah dibentuk dengan berbagai karakter. Sedangkan lampion karakter berupa lampion yang dihias dengan kain felt dan dakron, dengan berbentuk karakter seperti snowman, sinterklas, lampion baju adat dan lampion pasangan pengantin. Harga lampion untuk diameter 30 cm bervariasi dari mulai Rp. 35.000 sampai Rp. 60.000. Harga bisa lebih mahal tergantung diameter dan tingkat kerumitan.
Lampion yang paling diminati untuk melengkapi perabot kafe berupa lampion ukir dengan berbagai bentuk ukiran, seperti lampion dengan ukiran bintang, kupu-kupu, bunga, hati dan sebagainya.
Keseriusan menjalankan usaha ini Clarissa tuangkan dalam sebuah buku yang mengulas cara membuat lampion dengan judul Kreasi Lampion Rajut. “Saya tulis buku ini untuk memudahkan masyarakat membuat usaha lampion benang rajut dan saya perhatikan pula belum ada buku pula yang membahas tentang lampion dari benang rajut,” ujar Clarissa.
Selain memproduksi lampion, Clarissa membuka jasa kursus lampion dan produk karakter dari felt dan dakron. “Bahkan ada dari peserta pelatihan yang membawa bekal kursus ke Belgia untuk dikembangkan,” tambah Clarissa bangga.
Tahapan membuat lampion benang rajut dimulai dari melilitkan benang rajut  ke permukaan bola karet secara tak beraturan sampai penuh (1 rol benang untuk 1 lampion diameter 30 cm), selanjutnya lampion diberi lem putih secara merata. Lalu lampion dijemur dibawah sinar matahari 5-6 jam sampai kering, kemudian bola dikempeskan. Selanjutnya lampion dilubangi di bagian atas dan bawah dengan cutter, kemudian dikeluarkan bola karet dari lampion, setelah itu jika ingin menggunakan felt tinggal ditempel pada permukaan lampion.
Clarissa saat ini mempekerjakan  6 karyawan yang digaji Rp. 5.000-10.000/pcs produk. Jika ada order besar ia menggunakan jasa karyawan lepas hingga 50 orang yang berasal dari masyarakat sekitar rumahnya. Karyawan diberikan pelatihan hingga bisa membuat lampion. Dengan dibantu karyawannya ini, Clarissa per bulan bisa memproduksi 400 lampion dengan model beragam. Jika harga rata-rata per produk Rp. 50.000, maka dalam sebulan ia mampu meraup omset hingga Rp. 20 juta/bulan dengan keuntungan hingga 75%.
Menurut Clarissa, produk lampion benang rajut kreasinya memiliki kelebihan terutama dari desain produk yang berkarakter dengan sistem customized (bisa dibuat sesuai selera pemesan). Ia juga mengutamakan kualitas dan tingkat kerapihan pembuatan produk. Konsumen bisa memesan warna dan desain produk yang diinginkan. Clarissa juga memberikan diskon 20% untuk pembelian lampion diatas 100. Diskon biasanya diberikan secara rutin untuk acara bazar, event atau hari-hari tertentu seperti Natal dan tahun baru. Selain itu ia memberikan layanan retur jika produk tidak sesuai keinginan pemesan. Clarissa juga tidak khawatir dengan adanya pesaing, karena ia selalu menciptakan produk-produk terbaru seperti menciptakan lampion dengan karakter baju adat dan lampion pasangan pernikahan.
Pemasaran. Clarissa semula memasarkan produk dengan sistem konsinyasi ke berbagai toko di mal-mal. Ia juga melakukan promosi melalui Facebook atau memasang iklan jual beli di internet. Pembelian lampion dalam skala besar sebanyak 100 lampion menggunakan sistem pembayaran DP 50%, sisanya 50% ditambah ongkos kirim setelah lampion selesai diproduksi dan siap kirim. Untuk pembelian satuan pembayaran dilakukan secara cash ditambah ongkos kirim.
            Peningkatan permintaan terutama pada saat perayaan Natal, Tahun Baru, Imlek dan Valentine Day. “Kalau mau Natal biasanya kita kebanjiran order, kita pernah mendapatkan order pada hari Natal dari mall CITOS (Cilandak Town Square) Jakarta Selatan sebanyak 500 lampion, kita kerjakan selama 2 minggu,” tutur ibu dua anak ini.
Kendala. Kendala yang dialami Clarissa dalam proses produksi biasanya cuaca, karena untuk pengeringan menggunakan sinar matahari yang membutuhkan waktu 5-6 jam untuk pengeringan. “Kalau mau Natal biasanya musim hujan, apalagi kita lagi banyak order. Terpaksa menggunakan kipas angin untuk pengeringan yang bisa seharian bahkan sampai malam,” ujarnya.
Poskan Komentar